Friday, 25 July 2014

Pangeran Pancasari : Wawasan Nusantara

001. PERKENALANKU DENGAN WAWASAN NUSANTARA


Tulisan ini akan aku buka dengan kutipan syair lagu yang dulu dipopulerkan oleh Bang Jamal Mirdad dengan judul Nusantaraku

NUSANTARAKU

Tiada lagi negeri seindah persada nusantara
Hutan rimba menghijau tempat bersemayam burung margasatwa
Gunung api yang tinggi megah 
Menambah semarak persadaku
Lembah ngarai dan sungai-sungai mengukir keindahan abadi
Tanah pusaka, akupun dilahirkan disana

Penduduknya gagah tampan cantik molek tiada bandingnya
Terkenal manis budi bahasa dan lemah lembut perangainya
Mereka saling menghormati
Saling menghargai hak asasi
Mereka bernaung di bawah pusaka Garuda Pancasila
Dan Sang Saka Merah Putih lambang Indonesia

Jagalah kelestarian sejarah budaya
Semua rahmat Tuhan Yang Maha Esa
Mari bersama-sama menjaga lingkungan hidup ini
Hutan dan rimba, burung margasatwa (dan) sebagainya Nusantara.

Syair lagu tersebut sebagai salam perkenalanku kepada saudara-saudaraku semua sebangsa dan setanah air. Tulisanku kali ini adalah sebuah cerita yang kualami saat pertama kali aku mengenal istilah wawasan nusantara.

Begini ceritanya:
Waktu itu perpustakaan sekolah masih tutup, meski demikian aku diperbolehkan untuk mengambil kunci diruang guru disaat jam istirahat. Begitulah kebiasaaku waktu masih sekolah di sekolah dasar. Setidaknya dalam seminggu ada satu buku yang kupinjam. Aku memang gemar membaca karena aku senang dengan kisah-kisah legenda, dongeng ataupun sejarah. Sejak kecil sebelum tidur aku sering minta diberi dongen pengantar tidur oleh kakekku. Setelah aku bisa membaca, aku senang mencari-cari buku cerita. Dari buku cerita seperti, Marsudi Si Anak Tiri dari Desa Waleri, Atik Srikandi Cilik, Majalah Bobo, Donald Bebek, Paman Gober hingga komik dari Ganesh, Jan Mintaraga juga cerita silat dari Kho Ping Ho, S. H. Mintarja ataupun serial Wiro Sableng dari Bastian Tito. 

Setelah terdengan bunyi dung sebagai tanda jam istirahat tiba, aku segera ke kantor guru untuk mengambil kunci perpustakaan. Masuk ruang perpustakaan sendirian dan akupun langsung menuju rak buku. Ku mulai melihat-lihat judul buku dan daftar isi buku. Aku sudah menemukan trik untuk memperkirakan isi buku dari kebiasaanku membaca. Saat aku mulai asyik melihat-lihat, anak-anak yang lain mulai ada yang berkunjung keperpustakaan. Seorang ibu guru juga datang memperhatikan apa yang kami lakukan. Perhatianku tertuju pada sebuah buku tebal bertuliskan "Wawasan Nusantara." "Buku apa ini? Pikirku. "Jelek sekali, sudah tebal tak ada gambarnya lagi," aku masih mengamati buku tersebut. Meski kuanggap jelek tapi aku penasaran dengan kata nusantara. Karena pernah kudengar ada kisah hebat dari nusantara. sebagai pengemar berat dongeng dan legenda aku dibuat penasaran karenanya. Tetapi aku masih berpikir, dan buku itu kutaruh kembali di rak. Aku mencoba mencari buku yang lain. Tetapi setelah beberapa saat berlalu aku belum menemukan buku yang ingin kupinjam saat itu. Buku-buku yang kuanggap menarik sudah pernah kubaca.

Kembali kulihat-lihat buku "Wawasan Nusantara." Kata nusantara tetap membuatku penasaran, tapi aku masih ragu untuk meminjamnya. Pikirku apa ada cerita silatnya, mungkin dari Patih Gadjah Mada. "Mau pinjam buku itu ya? Bagus kok, siapa yang membacanya akan jadi orang hebat," Kata bu guru yang meliatku memegang buku itu. Rasa penasaranku bertambah meski sebenarnya aku masih ada keraguan. Tetapi aku segera memutuskan untuk meminjam buku itu. Kutulis buku itu di daftar peminjaman. Begitulah disekolahku dahulu, murid-murid diperkenankan untuk melayani sendiri dalam hal peminjaman buku. Mungkin kami sedang diajari untuk mandiri dan belajar bertangungjawab. Tangungjawab untuk merawat buku dan mengembalikannya tepat waktu. Selain itu juga ada pelajaran kejujuran didalamnya. Sisi lainnya adalah perpustakaan serasa milik sendiri, sehingga lebih menghargai apa yang ada didalamnya. 

Aku keluar dari ruang perpustakaan dengan membawa buku yang berjudul "Wawasan Nusantara." Aku berharap bisa mendapatkan kisah yang menarik tentang nusantara. Ada bapak guru masuk ruang perpustakaan. Beliau membaca-baca daftar buku yang dibaca para siswanya. Barangkali beliau sedang menyelami pemikiran dari para muridnya berdasarkan buku-buku yang dipinjam. Sepintas kudengar komentarnya, "Lho ada juga to, yang meminjam buku Wawasan Nusantara?" "O, pantas wae kalau dia yang meminjam, memang harus begitu!" Sambungnya lagi. Aku menduga-duga apa maksud perkataan dari pak guru. Kenapa aku dikatakan pantas meminjamnya? Apa karena aku lumayan pinter dan selalu juara kelas? Rasa Ge-eR membuatku bersemangat dengan buku itu.

Sampai rumah akupun segera akan membaca buku itu. Kok bukunya beda seperti buku-buku yang biasa aku baca. Banyak kata-kata yang gak jelas, sempat kuletakkan buku itu karena sebel. "Buku jelek gitu, dimana bagusnya, apa itu de facto, apa itu de yure, teritorial, zona bebas, maritim, sistem hankanrata bahasa apa pula itu?" Aku mengeluhkan buku itu. Memang banyak kosakata baru yang tak kumengerti. Sebenarnya aku mulai malas membaca buku itu, tapi aku gak mau malu di depan bu guru. Bagaimana nanti kalau bu guru menanyakan tentang buku itu. Ditanya udah dibaca belum aja aku bisa kebingungan menjawabnya. Seperti itulah, ketika kepolosan dan kejujuran ketika masih kuat. Kita akan kebingungan untuk mengakui hal yang seharusnya kita lakukan tetapi tidak kita lakukan. 

Benar saja, enam hari berselang setelah aku pinjam buku itu aku bertemu dengan bu guru. Beliau menanyakan, "bagaimana bukunya?" Ku jawab, aku belum selesai membacanya. Bu guru berkomentar itu wajar dan memberiku toleransi batas waktu pengembalian buku itu. Khusus buku itu aku dibebaskan dari batas waktu peminjaman buku. Kubebas kapan saja untuk mengembalikannya, dengan catatan aku harus membacanya. Katanya lagi, bu guru akan menanyai tentang buku itu.


Aku menyesal sudah keGR-an, buntutnya ku punya tugas berat yaitu membaca buku yang sulit kupahami. Akupun terus mencoba mememahami kata-kata yang ada dalam buku itu. Hampir satu bulan, aku tidak juga bisa menuntaskan membacanya. Kusadar, aku belum mampu untuk memahami buku itu. Aku berniat mengembalikan buku itu. Tapi, bagaimana caranya agar bisa menjawab kalau bu guru menanyakan tentang buku itu. Kata-kata apa yang bisa mewakili buku itu. Kudapatkan kata-kata untuk menjawab pertanyaan bu guru. Akan kukatakan bahwa Wawasan Nusantara itu adalah cara pandang bangsa tentang nusantara, nusantara dipandang sebagai satu kesatuan idiologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan hankam yang bulat dan utuh. Sudah kuhapal, aku menjadi berani untuk mengembalikan buku. Tapi, bagaimana kalau nanti disuruh menjabarkan dan memberi contoh? Aku kembali ragu. Tetapi kalau tidak kukembalikan, mau kapan lagi? Aku sudah gak punya kesanggupan untuk membacanya lagi saat itu.


Kuputuskan untuk mengembalikan buku itu. Aman, karena saat buku kukembalikan aku tidak bertemu bu guru. Tapi, sebelum aku masuk kelasku aku bertemu bu guru. Aku memberi laporan kalau bukunya sudah kukembalikan. Beliau bertanya,"Bagaimana bukunya, apa sudah dibaca? Kujawab,"sudah". "Bagus," kata kata bu guru. Hanya itu komentarnya. Lho mana pertanyaannya? Kenapa tidak ada pertanyaan agar aku menguraikan wawasan nusantara? Mana pertanyaan? Ah, bu guru ini. Tetapi setelah kupikir-pikir. Bu guru memang sudah menanyakan tetang buku itu, apa sudah kebaca atau belum. Ternyata pertanyaan yang dimaksud adalah itu. Ah, bu guru sengaja begitu agar aku benar-benar membaca buku itu.


Begitulah kisahnya, entah apa yang membuatku selalu tertarik dengan nusantara. Pengalamanku waktu itu masih kuingat. Perkenalanku dengan Wawasan Nusantara menjadi kenangan tersendiri buatku. Bertahun kemudian kutahu buku yang kubaca saat ku masih SD dahulu adalah buku untuk anak kuliah mungkin S-2. Entah kenapa buku tersebut bisa nyasar ke perpustakaan sekolah. Pantas saja bu guru bilang kalau siapa yang baca buku itu akan jadi orang hebat. Siapa orangnya yang tidak akan jadi hebat jika bisa paham tentang Wawasan Nusantara. Apalagi sejak SD sudah paham, luar biasa namanya. Malunya aku karena ke-Ge-eR-an alias sok pinter.

Demikian yang dapat kuceritakan, salam kenal buat saudara-saudaraku sekalian se-nusantara...

1 comment: